HIDUP SELEPAS AWAN

13 Nopember 2004

“Ayah. Kalau kau bisa mendengar. Aku menemukan gereja kecil di dekat kos.”

Hanya sesaat.
Aku terhalang sinar matahari. Amarah memuncak, langsung berteriak: “Aku butuh cahaya gemerlap saat ini juga!” Kukutuki awan melingkupi. Ia sungguh tak punya perasaan. Namun tak bisa mengucap apa-apa pada wujud tak terjangkau itu. Sial!

Kesadaran muncul. Aku ini cuma boneka bertangan, menerima siang-malam-hujan, dan kemarau bergantian. Nasib keadaan yang tak bisa kulawan. Ini nasib mahluk pilihan. Meski kejadian yang ditumpangkan tak sesuai dengan pilihan keinginan. Pasrah harus jadi tuntutan.

Aku sadar, aku tidak lahir sesempurna Adam. Watakku pemarah, gampang sekali mengumpat. Setitik debu melayang-layang di bawa angin petang, di depan mata seolah gereja Katedral raksasa. Pun desah lemah, sayup-sayup di telinga, bunyinya bagai teriak kondektur metromini di tengah kemacetan dan kelakson bertalu-talu. Biadab!

Aku lahir dari ibu yang sungguh mencintai anak. Terutama aku anak pertama, laki-laki, berambut lebat, sehat pula. Wajahku mewakili perpaduan wajah ayah dan ibu. Dari Ayah aku mewakili jidat lebar dan rambut lebat pula. Ibu menurunkan padaku mata tajam dan hidung bulat.

Ibu memberi asi hingga usiaku dua setengah tahun. Anak ayah dan ibu berjarak beberapa tahun lahir kemudian. Kata orang-orang tua, itu akibat aku terlalu lama menetek di dada ibu. Mungkin jangka waktu menetek yang lama itu pula penyebab aku lebih dekat pada ibu. Teli itu erat mengikat saluran emosi kami. Sampai kini.

Lepas SMA kuniatkan hati untuk pergi, merantau ke lain negeri. Meski tanpa pegangan, bermodal harapan, kuberanikan menggapai bintang di salah satu galaksi sana.

Dunia asing sungguh menjanjikan wujud harapan di awan-awan. Semoga masih ada harapan merentang sepanjang garis katulistiwa. Harapan itu tetap kupelihara meski waktu yang habis sudah semakin panjang.

Hingga kini, enam tahun lebih sedikit hari, selat memisahkan kedekatan hati kami berdua. Kami ditempatkan di darat dan di laut berbeda. Ini membesarkan rinduku untuk ibu.

Aku teringat pada masa dulu. Di sela-sela lafal doa koronka, melayang ingatanku. Pada ayah, ibu, dan adikku.

Bahagiaku tidak sebahagia anak-anak kampung lain. Ayah tidak menghasilkan segenggam nasi untuk disuapkan ke mulut kecilku. Ibu. Ibu yang menyuapi aku dan kedua adikku, dua kali sehari. Hanya dua kali. Dua kali ini yang mampu dicari dan bisa dihabiskan. Dan besok harus mencari lagi, mengumpulkan sebutir demi sebutir, lalu menanaknya di atas periuk berisi air.

Ayah? Pada ayah tidak bisa berharap apa-apa. Ia malah seperti bayi kecil dengan mulut menganga, bila waktu makan tiba. Anak ibu seperti empat orang, dan dialah anak keempat. Bayi tertua yang pernah ada.

Bisa saja terlalu jahat mengatakan ayahku seperti bayi. Tapi memang itu. Itu memang dia. Bayangkan! Sepanjang ingatan, tidak pernah sekalipun membelikan sebutir permen atau sekerat lemang bambu, dua makanan kesukaanku.

Namun suatu hari, semua kemarahanku runtuh ke dasar penyesalan yang paling dalam. Suatu hari sebuah peristiwa terjadi. Ini jadi cerita tersendiri yang selalu kukenang dan kukenang kembali tanpa bosan.

“Maukah ayah membelikan sesuatu?”
“Ayo!” Dia menyanggupi permintaanku tanpa pikir panjang. Berdua kami melangkah menuju warung di ujung jalan sana. Agak jauh memang. Tapi makan enak sudah memancing liurku. Aku bayangkan nikmatnya mengunyah idamanku. Dulu aku bisa sering melakukannya. Tapi sekarang, aku harus ke warung di ujung sana.

Dulu kami punya warung kecil. Karena bangkrut tutup. Aku dan dua adikku penyebab. Kami selalu punya taktik untuk mencuri segala jenis jualan yang bisa dimakan. Utamanya kacang dan berbagai macam roti. Satu akan berusaha mencari perhatian di dapur atau di kamar mandi. Bertingkah seolah terjadi sesuatu. Satu orang akan menjaga di pintu warung, dan satu orang memasukkan hasil curian ke dalam kantong celana. Tugas terakhir ini biasanya bagianku. Karena tinggi badanku bisa menjangkau jajanan laris yang ditaruh di rak paling atas.

Dulu mendapatkan jajanan gampang saja, tinggal mengatur strategi dengan adik-adikku. Sekarang, mendapat sesuatu hanya dari belas kasihan. Dan mesti beli. Anak kecil sepertiku bisa mendapatkan tentu jika dibelikan.

Begitu tiba di warung ujung jalan, aku menjumput kue tawa rudal dari wadah stoples kaca. Kue kering, pecah-pecah seperti mulut tertawa di sisi-sisi luar. Rudal diambil dari nama senjata Amerika dan Irak saling menyerang di Timur Tengah. Sebetulnya tidak mirip sekali dengan rudal Patriot atau Scud. Tidak runcing di salah satu ujungnya. Malah rata. Panjangnya kira-kira setelunjuk orang dewasa, besarnya juga.

“Seratus rupiah.”
“Pak, bayar!”

Ayah diam saja, menunduk. Satunya lima puluh rupiah. Sudah kugigit satu.

“Saya tidak punya.” , kata ayah dengan ekspresi malu.
“Kan sudah dimakan?” Penjaga warung meninggikan suara.

Aku sadar apa yang terjadi. Ini harus diselesaikan. Pelan-pelan kubuka stoples kaca tempat kuetawa rudal tadi. Pelan-pelan kutaruh ke dalamnya. Kukembalikan yang belum kugigit.

Aku berlari pulang. Aku tahu kalau ayahku tidak punya apa-apa. Kue yang terlanjur kumakan tidak usah dibayar. “Lain kali bayar!”

Setiba di rumah, kuhabiskan yang separuh tak bersemangat. Aku memikirkan ayah yang tak punya uang. Aku bertanya di dalam hati, mengapa pula mau kuajak padahal tak punya uang? Belakangan kutahu itu terjadi karena cinta. Ayah sangat mencintaiku. Tidak bisa menolak apa permintaanku.

Masa kanak-kanaknya, ayah pernah sakit setahun penuh. Selama itu ia berbaring di tempat tidur papan, beralas tikar pandan. Punggungnya bolong-bolong. Busuk. Hanya napas lemah keluar dari hidung pertanda masih ada hidup. Aku masih melihat bekas bolong-bolong itu di masa tuanya. Menderita.

Itu berawal setelah Dia pulang berendam di kali seharian. Malamnya demam. Sejak itu tidak pernah keluar kamar. Otaknya diserang malaria tropika. Aku tidak tahu kebenaran kalau menderita sakit ini si sakit lemah ingatannya? Ayahku pelupa. Ditanya sudah makan atau belum, dia lupa.

Dia dijanjikan akan dijemput pastor dari Medan. Ayahku terpanggil jadi pastor sejak kecil. Tapi sampai di hari ayah mandi seharian, tidak juga pastor itu datang. Dia kecewa.

Aku pernah punya keinginan seperti ayah. Adik perempuanku pun ingin membiara. Panggilan untukku berhenti dan sengaja kuhentikan, adikku beralih iman.

Ayah tetap pelupa sampai kami bertiga lahir bahkan dewasa dan ia menua. Hingga sekarang ia tetap pelupa dan tidak pernah memberiku apa-apa.

Sesuatu menyadarkan aku di masa remaja. Ayah bukan tidak memberiku apa-apa. Justru hal terbesar kudapat di masa pertumbuhan imanku. Hanya ayah yang selalu berdoa ketika bangun tidur, saat makan dan menjelang tidur. Ini pemberian terbesar buatku. Ini menguatkanku.

Ia tidak bisa memberikanku kue tawa rudal. Ia tidak bisa membelikanku lemang bambu. Ia tidak pernah mengajakku ke pasar. Tapi ia memberi hadiah besar untuk imanku.

Hanya selintas awan waktu diberikan Tuhan bagiku menerima hadiah besar hidup. Tertancap dalam. Awan yang datang pun megandung hujan di kala gersang. Saat-saat kemarahan, aku selalu ingat ketekunanmu. Dan aku tenang di rantau.

Dari rantau aku ingin pulang di doakan olehmu.

Catt: – Menang lomba cerpen di Paroki Nicodemus

Ditulis pada CERITA-CERITA PENDEK | Tinggalkan Komentar

Apa Kabar Puteri Cina?

Malam kesepian. Hening bergayut sendirian tanpa bulan. Apa kamu juga demikian? Sendirian merajut wujud kehidupan yang selalu ingin mati lebih awal? Atau masih berdua memupuk cinta dengan harap menuai bahagia?

Jangan terlalu berharap pada kesempatan yang datang bertamu! Ia memang datang membawa senyum. Keranjang dipunggungnya penuh buah tangan, oleh-oleh penghibur penantianmu. Itu siasat. Mesti hati-hati! Ia berbaik hati namun menyembunyikan taktik licik di kepala. Ia mengintai titik lemahmu. Taring tajam yang diasah berbulan-bulan purnama, ia siapkan di balik bibir. Jadi awaslah padanya! Bisa saja di balik senyumnya tersembunyi botol-botol racun. Tanpa kau sadari, ia titikkan setetes demi setetes lewat gigitan-gigitan mesranya di bulan pengantin. Alah, bulan pengantin!

Sebagai lelaki sejati, tetap kuucapkan, “Selamat menyendiri!” Kadang harus menjauhi rel kereta api untuk bisa lebih masuk ke hutan luas, mendekat pada suara-suara burung berkicau.

Yang kau lakukan sekarang, mencari sepi di lingkungan hutan, aku juga pernah lakukan. Berharap-harap akan hadir ketenangan, bergayut di pohon-pohon berdahan rendah. Begitu dekat bahagia itu menggantung, kita hanya perlu mendongak ke atas, membuka pintu hati, membiarkan aliran damai mengisi butir-butir darah. Alah, indahnya kata-kata.

Semoga bunga-bunga mekar di taman hatimu hari ini! Wanginya mengundang kumbang-kumbang hinggap, lalu bercumbu dalam cerah hari menginjak-injak serbuk sari, tanpa tali-tali kusut di lubang kasut.

Kamu tengah berjalan menuju rumah, tempat raga memuaskan lelah? Atau kamu sedang berjalan di pinggir jalan raya? Dimanapun kamu berpijak, semoga dilanda bahagia.

Pencarian kearifan hidupku hari ini melelahkan. Kotak-kotak pertanyaan dalam jiwa bersisa setumpuk kerikil-kerikil pencarian. Kotak-kotak pertanyaan beranak-pinak. Seolah, tiap hari lahir satu, dari satu demi satu ibu. Dan itu menjadi laksa yang tidak dapat dihitung tatapan mata dan bunyi di mulut. Hanya hati dapat menimbang.

Berapa banyak pertanyaan bertambah hari ini? Alam bawah sadar bersemedi mencari tonggak-tonggak yang bisa menyumbang jawaban. Namun sungguh aneh. Dalam perjalanan hidup, pertanyaan terus menerus menggunung. Jawaban-jawaban pertanyaan pertama justru melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru, muncul satu demi satu. Ditambah pula anak keturunan yang rapat seperti semak lebat.

Kalau hari ini kamu hendak pergi ke suatu tempat, pergi mencari jawaban-jawaban dalam perjalanan kehidupan, jangan lupa, kabari aku! Siapa tahu, pengetahuanku yang sedikit jumlahnya, mampu membuka setitik cakrawala jawab yang ingin kau temukan. Jangan lupa, istirahatkan sejenak mesin penghasil benda-benda logika! Biarkan ia menikmati tidur, menikmati masa istirahat. Alihkan kerja mesin logika ke mesin hati! Biar tenaga hati yang lembut beradab, mengolahnya menjadi benda yang berarti dalam perjalanan panjang ini.

Percaya akan hati! Hati mampu melahirkan benda cinta. Kelahiran cinta sanggup mendamaikan dunia merah membara, meredupkan angkara. Semoga lenyap merah membara atas nama kebenaran pribadi dan kefanatikan semu. Semoga musnah merah membara yang muncul akibat benda-benda logika tanpa benda hati.

Benteng-benteng langit berdiri kokoh tepat di atasmu. Pagar-pagar istananya mengurungmu tujuh puluh tujuh kali tujuh lapis, hingga ulat-ulat setan tidak bisa masuk menggerogoti hidupmu. Yakinkan hati dengan mantera-mantera cinta dan ramuan-ramuan kasih dari orang-orang di sekitarmu! Karena sudah sepatutnya manusia di sekelilingmu adalah cinta yang sebenarnya.

Akar-akar hidupmu menjadi akar kehidupan bagi seseorang yang lain. Itu sudah pasti. Manusia dicipta dengan sepotong hati. Tentu membutuhkan potongan hati lain, walau ada juga yang mengabaikan. Hati Ilahi ditukar guling dengan hati peradapan. Tapi yang pasti, kau punya potongan hati lain. Entah dimana?

Yang kau lihat, pegang, dan peluk sehari ini belum tentu ujung akar yang ditentukan buatmu. Walau warna, besar, bentuk, dan rasa yang kau kecap sudah sesuai dengan harapan sadar. Tapi ingat, masih ada harapan bawah sadar! Akan engkau tahu bila kematian sudah di ambang jurang hidup.

Jangan terlalu percaya kepada mesin penghasil benda logika kepunyaanmu. Imbangkan rasio dengan mesin hati penghasil benda kasih. Semoga perpaduan keduanya menjadikan harapan lebih sempurna.

Kehidupan ini bukan sekedar putih dan hitam. Ada warna-warna lain. Mungkin tidak kau kenal dalam kehidupan sadar tapi warna-warna ajaib itu ada. Di balik matahari masih banyak varian warna kehidupan.

Kenapa aku disibuki pikiran yang lahir dari bawah sadarku ya? Padahal aku kan hanya ingin bertanya tentang kabarmu Puteri Cina. Mungkin alam bawah sadarku belajar mencurahkan produksi perjalanan hidup. Apa kabar Puteri Cina?

Hari ini ada yang bertanya padaku. Benda apa yang mampu membuatmu melupakan dunia? Aku bingung, tidak bisa menjawab dengan rangkaian kata. Dari mulutku hanya keluar nada hmmm… panjang, tanpa ada kata-kata yang bisa dimengerti. Suara yang keluar dari kebingunganku tidak menjawab pertanyaan membingungkan tadi. Pertanyaan pendek yang membuatku benar-benar bingung. Sampai akhir pertemuan, jawaban pertayaan itu tidak kudapatkan. Bingung kan?

Aku pulang.

Mesin logika beristirahat, mesin hati mengambil waktu beraksi. Sontak tubuhku bergetar. Bergetar! Bergetar demikian keras, seolah terjadi gempa dahsyat membolak-balik bumi. Aku melihat, aku bisa merasakan. Ya, itu, ya, itu jawabannya. Pada awalnya kabur, … kabur …, lalu makin terang, … terang…, jelas! Akhirnya terpampang dengan jelas. Jawab tanya itu adalah wujudmu. Kamu berdiri di depan altar, memunggungi pintu masuk. Sepasang lilin cinta menyala benderang di atas meja altar.

Cahaya kecil menerangi lorong-lorong sekitar altar. Aku bisa melihat wajahmu bercahaya. Tubuh indahmu berbungkus gaun putih bersih, mahkota menghias kepala, cincin melingkari jari manis. Senyum menghias bibirmu, mencipta paduan keindahan sempurna. Aku mendengar nada-nada lagu, menggema lembut, menggetarkan tulang-tulang di sekujur tubuhku. Aku hanya bisa berdiri, menatap kehidupan yang bermain di depan mata.

Ada aneh. Di sampingmu. Di sampingmu sepasang sepatu hitam tergeletak, sepasang pakaian pengantin pria teronggok. Cincin emas tergeletak di atas tumpukan pakaian pengantin. Aku bingung. Apa makna? Apa sedang terjadi? Apa pengantin itu berganti pakaian dengan yang lebih baik? Atau pengantin pria itu memutuskan menanggalkan penutup aurat? Memaknai bahwa ia tulus melakukan upacara penyatuan jiwa dan raga? Alah, pertanyaan datang lagi.

Beberapa saat aku menunggu, berputar-putar mencari jawaban. Namun pertanyaan-pertanyaanku tidak terjawab satupun. Ini apa? Ini kenapa? Ada apa? Mengapa? Apa…? Hah?

Kuberanikan diri bertanya pada seorang ibu. Ia menutupi kepala dengan kerudung putih. Wajahnya sedikit tersembunyi ditutup ujung kerudung. Namun aku masih bisa melihat garis-garis wajahnya. Wajah yang bercahaya. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan mesin logikaku.

“Tidak terjadi apa-apa dengan pengantin pria nak.”, katanya. Suara dan tatapannya lembut. “Benda-benda yang kamu lihat hanyalah lambang. Lambang orang yang mampu membuat gadis itu melupakan dunia.

Gadis itu menanti pengantin pria. Penuh pengharapan menanti pengisi kekosongan hati. Berharap terhapus kekotoran yang pernah menyiram perjalanan hidup.

Lihat! Pakaian pengantin pria sudah lengkap dan pengantin wanita sudah bersolek. Pengantin pria tinggal membuka pintu kastil, berjalan sepanjang karpet putih tergelar di lantai, tanpa seutas benang menutup tubuh. Segala sesuatu telah tersedia. Pengantin pria hanya butuh keberanian, punya kesetiaan tulus menjalani setiap ujian yang menghadang.

Aku kembali lagi menatap pengantin wanita itu. Ia masih memegang erat kuntum kembang rupa warna. Bibir merahnya masih tersenyum, ia masih tersenyum, tersenyum menatap altar suci. Ketika aku berpaling hendak bertanya, ibu dengan kerudung putih telah pergi. Padahal aku hendak bertanya, kenapa gadis itu tersenyum. Perempuan berkerudung itu seperti angin, melangkah tanpa meninggalkan bunyi sedikit pun.

Kini, tinggal aku sendiri dengan pengantin wanita. Tidak ada tamu-tamu lain. Aku masih duduk di baris bangku yang paling belakang. Dan aku hanya bisa berdiri, menatap tanpa mampu bertanya, “Apa kabar Puteri Cina?”

07/07/2003

Ditulis pada CERITA-CERITA PENDEK | Tinggalkan Komentar

WIHARA CINTA

Aku tertegun. Bau tajam menusuk lewat rongga hidung mencari saraf penciuman. Otak kecilku dipaksa berputar cepat menelisik kenangan-kenangan usang tertinggal. Mungkin karena aku tidak lahir di jaman Pentium hingga sulit mengenali bau yang sekian tahun lalu pernah tersimpan datanya di folder kenangan. File cinta kuberikan namanya, di hardisc Remaja (C:). Sengaja kupartisi hardisc otakku untuk memisahkan kenangan indah dan buruk. Yang indah kubuat foldernya di partisi bagian C, mewakili singkatan kata cinta. Entah logika mana kupakai memberikan nama itu. Biarlah semua yang indah atas nama cinta. Cinta untukku dan cinta orang-orang di sekitarku.

Kelahiranku tidak jauh dari seputaran waktu ditemukannya mikroprosesor. Benda kecil dengan kemampuan besar yang jadi cikal bakal prosesor Pentium jaman ini.

Aku sering menggunakannya sebagai penanda ingatan waktu pada sesuatu yang berhubungan dengan kecepatan otakku. Tapi tidak bijaksana membandingkan otakku dan otak buatan itu. Berbeda samasekali. Mungkin seperti membandingkan seekor semut dengan gajah.

Tapi kalau lobang yang dimasuki lobang semut, kenapa harus memakai gajah? Mungkin bisa. Tapi gajah harus dicacah kecil-kecil seukuran semut lalu ditarik dengan serat pohon pisang yang dalam bahasa batak daerahku disebut riman. Pekerjaan melelahkan bukan?

Hah kenangan itu datang. Ia hadir dalam keterbatasan otakku mengingat sesuatu. Hio? Ya! Hio! Sekejap kenangan tentangmu berputar-putar kembali seperti gasing di atas ubin merah darah tigapuluh kali tigapuluh centimeter. Ngilu di hati ketika ujung gasing bertumpu di cluster memori yang menyimpan duka.

Aku tidak bisa berhenti begitu saja mengenangkannya. Kedalaman cengkraman tangannya tak tergoyahkan hentakan-hentakan kepala. Setengah mati memaksanya keluar dari telinga. Pegangannya sudah berurat berakar. Ia tumbuh dan berkembang biak, membangun koloni kehidupan.

Astaga! Kini ia malah berteriak mengumandangkan namanya. Kenangan itu. Masa yang selalu ingin kulupa permanen dari memori otakku. Ah, andai kutahu dimana tombol delete di anggota tubuhku. Aku akan segera menekannya dengan dendam.

Ia tetap tidak mau berhenti. Perlu kutusuk-tusuk gendang telingaku hingga berlubang-lubang. Kukuh sekali. Suara itu tetap tidak mau berhenti. Dia makin marah dan menggila. Dia berlari kesana-kemari. Tidak peduli lagi kalau tindakannya membuatku tambah sakit.

Kini ia menempel di ujung saraf pendengaran. Aku tidak berani menariknya satu persatu. Takut otakku ikut terseret juga. Ada bagian indah yang tidak ingin kubuang dari sana. Termasuk kamu. Bisa-bisa aku jadi manusia tanpa kenangan. Amnesia.

Tapi aku tidak pernah suka ketika yang muncul hanya deraan kesakitan yang pernah terlintas di perjalanan hidup. Perjalanan cinta yang buruk.

Tidak bisa kuisolasi pedih masa lalu itu. Ia hidup. Virusnya cepat berbiak mengisi segala sudut. Anti virus khusus otak sekarat tidak mampu memperbaiki kerusakan file kenangan yang terjangkiti. Ia lebih cepat uptudate dibanding anti virusku. Padahal baru seminggu lalu ku update. Fasilitas karantina pun tidak sanggup kujalankan.

Anti virus bedebah sialan! Pilihan di-delete lalu hilang permanen? Tidak! Aku tidak mau. Bagaimana pun ada kenangan manis di sana. Meski secuil.

Kutinggalkan amarahku di meja engkoh penjual nasi Hainam campur. Tidak jadi aku pesan kesukaanku. Irisan tipis daging merah yang kuangankan sejak dari rumah, tidak menarik lagi. Aku sudah terlalu muak dengan satu hal yang sangat kubenci ketika hendak makan di warung. Beberapa pengalaman jelekku entah kenapa selalu terjadi di warung engkoh. Entah di kantin kampus juga di daerah Kota.

Lima daftar menu disodorkan tepat di mukaku, disertai suara keras berebutan menarik perhatian. Mereka menawarkan jualan. Seolah aku ucok kecil yang tidak bisa baca dan sedikit tuli. Mungkin aku harus teriak : ” Aku ini sarjana meski IP dua lebih sedikit. Tahu baca dari ini Budi sampai Das Kapital Karl Max. Bahkan pernah baca teori Dekonstruksi Derrida. Telingaku juga beres, kata dokter THT dua minggu lalu”. Dengan begitu, mungkin mereka semua akan menciut seperti keong masuk ke cangkangnya.

Dalam perasaan kesal, aku masih bisa baca kalau dua dari daftar menu menyediakan Hainam campur. Ada pula dikasih nama Hainam Campur Singapore. Apa babinya dari Singapura? Atau penjualnya dari Singapura?

Pertanyaan mana yang mungkin terjadi? Buatku, pertanyaan terakhir lebih masuk akal. Aku punya alasan yang terpikir begitu saja. Untuk apa mengimpor sekedar daging babi dari negeri tetangga? Padahal di Banten sana, beratus babi bule gemuk diternakkan. Mereka berdesakan di kandang-kandang berlantai semen dan beratap seng. Babi bule yang putih semua bulunya. Atau cenderung ke merah jambu seluruhnya.
“Kenapa juga harus disodor-sodorkan hampir kena muka? Berteriak lagi?” tanyaku dalam hati.
“Hainam campur”
“Bakmi…bakmi”
“Hainam campur”
“Boleh… boleh, silahkan”
“Ya, nanti sebentar lagi.”, jawabku
“Kwetiau?”
“Ya, nanti.”, jawabku lagi
“Teh botol, fruit tea, atau apa?”

Aku tidak tahan. Aku menoleh. Ah, Wanita. Akhirnya aku sanggup menahan. Tak sanggup aku marah atau mendongkol padanya. Meski dalam hati sekalipun. Wanita.

“Es teh manis.” Pesanku. Ee… dia balik badan tanpa mengucapkan terima kasih. “Mata duitan”, umpatku. “Dasar kapitalis”, tambahku. Segala cara untuk uang. Produk laku itu lebih penting. Manusia itu cuma aset. “Kapitalis!”, umpatku kembali. Tentunya dalam hati.

Kenangan dulu terbayang lagi. Wujudnya semakin jelas tergambar. Peristiwa dulu seperti terjadi kembali. Aku jadi bisa membandingkan masa lalu dan kini.

Belahan jalan di los penjual ikan segar masih seperti dulu. Becek berat. Nyaris sama seperti dulu. Ember-ember, tumpukan ikan, teriakan-teriakan, dan tawar-menawar. Satu yang membuatnya berbeda. Baunya. Baunya kini semakin menjadi. Lebih bau dari dulu.

Bertumpuk-tumpuk ikan tongkol digelar dekat ikan bawal. Kulihat toko kelontong Sejahtera di sana. Masih seperti dulu, bercat hijau muda di bagian luar. Kini memang lebih kusam. Ia tenda-tenda biru berdebu. Sebagian halaman depan pun tertutup jualan bumbu-bumbu dapur. Bau bumbu campur aduk mengalahkan bumbu bakmi di atas penggorengan.

Aku terbayang kelezatan rasa mi hangat baru diangkat dari penggorengan. Dihidangkan di atas piring ceper. Piring dari bahan yang sama untuk membuat kursi metromini. Pantulan kilau mi akibat minyak berlimpah menerbitkan liur.

Dulu aku begitu tertarik untuk menikmatinya. Harumnya uap dari penggorengan terasa kuat menarik air liurku.
Tidak menunggu lama, pesanan diletakkan di atas meja, ditemani segelas air putih. Sepasang sumpit bambu berbungkus pelastik kuraih dari tempatnya di ujung meja. Cuka makanan, sambal dan saus tomat tak ingin kutambahkan untuk harum mi seenak ini.
Jepitan-jepitan mi menunggu masuk mulut tidak bertahan lama di udara. Hanya sesaat terangkat dari piring, sehitungan beberapa detik melucur ke mulut. Ujungnya kusedot dengan tarikan napas sambil memoyangkan bibir. Ujung lainnya yang masih tertinggal di piring kudorong pelan-pelan dengan sumpit.

Bibir berminyak-minyak menambah lancar barisan mi itu meluncur ke rongga mulut. Lalu kukunyah lembut untuk menikmati lama-lama racikan bumbu yang luar biasa.
Ingin aku punya istri pintar memasak mi seperti ini. Kalau kutemukan, mungkin aku tidak perlu lagi makan nasi. Tiga kali sehari hanya makan mi berminyak. Lupakan kolesterol yang makin naik dan darah yang makin tinggi sampai ke langit. Jantung juga biar kelelahan memompa darah ke seluruh tubuh. Kenikmatan di atas segalanya.

Di ujung jepitan sumpit terakhir tanganku berhenti. Gadis itu membuatku mematung. Rambutnya hitam legam jatuh lurus di bahu. Kulit putih wajahnya bercahaya seperti matahari. Aku seperti klorofil daun mengharapkan sinar dari wajahnya tadi. Kemana pun dia bergerak aku mengikut terus. Akibatnya tangkai daunku harus berkelok-kelok mengikut gerak sinar matahari dari wajahnya.

Mata sipit seperti mengintip saja melihat segala sesuatu. Astaga! Aku cukup lama terpaku melihat gerak bibirnya naik turun ketika berbicara pada ayahnya yang sedang menghitung uang di kasir. Tebakanku asal saja karena kulihat mereka mirip. Sama sipit dan kulitnya hampir serupa putihnya. Rambut pun sama hitamnya. Tapi kalau dibandingkan dengan lelaki sipit yang baru saja meninggalkan kasir sambil membawa bungkusan, juga mirip.

Aku sulit membedakan mereka. Bagiku semuanya sama saja. Seperti melihat orang Amerika. Mirip. Seolah mereka semua sama. Berambut pirang dan bertubuh jangkung. Ternyata bukan hanya aku saja yang berpendapat begitu. Teman-temanku pun sama. Bahkan aku pernah bertemu orang Jepang dari rombongan kesenian, bertanya kemana saudara perempuanku. Aku bingung. Saudara perempuanku ada di Sumatera, tidak pernah kubawa bertemu dia. Setelah dia menerangkan ternyata maksudnya adalah teman perempuan yang beberapa kali kubawa bertemu dengannya. Dia melihat kita orang Indonesia serupa semua. Dianggapnya bersaudara. Dia tidak tahu kalau di Ambon pernah perang saudara.

Kuambil selember tisu dari wadah di atas meja. Cepat-cepat kulap mulut. Sekelebat menuju kasir setelah meminum seperempat gelas air putih.

Rupanya dia pamit ke ayahnya entah hendak kemana. Aku ikuti saja. Aku seperti kutub utara magnet mengikuti dia si kutub selatan. Tarikannya begitu kuat seperti disedot pusaran tornado. Aku ditarik ke tengah pusaran. Aku pusing.

Aku tidak bisa melepaskan kesempatan ini begitu saja. Aku ingin kenalan. Tidak harus berharap menjadi pacarnya. Menjadi teman pun tak apa. Siapa tahu istriku kelak bisa belajar membuat mi enak darinya. Itu saja.

Gelap semua. Wajah-wajah yang kutemui saat berpapasan tampak gelap semua. Mata mereka memandang hanya lurus ke depan. Barang sedikin pun tidak peduli dengan aku yang menabrak alur arah mereka yang berjalan cepat di tengah para pembeli.
Hanya wajahnya bercahaya di siang ini. Dengan mudah kuikuti pergerakan cahaya yang keluar dari wajahnya. Ternyata bukan cahaya dari wajahnya saja. Seluruh tubuhnya bercahaya di tengah orang banyak. Seolah satu-satunya sumber cahaya di tengah jagad raya maha luas.

Mataku tertumbuk pada pinggulnya yang bergerak ke kiri kekanan mengikuti langkahnya. Bahkan bagian itu sungguh sempurna. Pinggul besar di bawah pinggang ramping konon bagus untuk melahirkan anak. Tapi aku tidak ingin melahirkan anakku dari rahimnya. Suatu hal yang mustahil kalau pun aku menginginkan. Banyak sekali hambatan yang harus kulalui bila berani membayangkan ia menjadi istri. Bukan hanya aku yang akan kesulitan. Dia dan anak-anak kami terutama, akan sulit memperoleh sepucuk surat pengakuan sebagai tanda memiliki sesuatu dari RT.

Di tempatku berdiri sekarang ini dia dulu berhenti. Di tengah angin dengan bau hio yang tajam dia berdiri. Menolehkan wajahnya ke belakang. Sontak aku menghentikan langkah dan menahan napas melihat senyum di bibirnya. Ia mengganggukkan kepala sambil tersenyum. Aku jadi memperhatikan leher putihnya. Kutahan mataku untuk tidak berfokus ke bawah lehernya karena takut dia menganggap aku laki-laki yang bukan-bukan.

Kuikuti ia masuk gerbang kelenteng Darma Bakti. Sepanjang jalan masuk berbaris pengemis. Kuperhatikan kulit mereka. Sama denganku. Dan mata? Pun sama seperti mataku. Aku menunduk malu sejenak lalu hanya menatap lurus ke depan, mengikuti kemana ia mengarah.

Aku berhadapan dengan barisan hio ditancap di atas pedupaan. Merah hio kontras dengan warna abu yang abu-abu. Hi berwarna merah menjadi abu-abu setelah terbakar habis sedikit demi sedikit, lalu jatuh menjadi gundukan abu. Sudah pasti bau tajam pun menusuk hidung, lebih tajam, sebab hio terbakar hanya beberapa meter di depanku.

Kulihat ia membelok, masuk ke ruangan yang penuh dengan asap dan barisan orang menyembah naik turun tidak serempak.

Aku masih sempat berdiri sejenak melihat kesibukan di dalam sana. Dalam terang cahaya lilin dan sedikit cahaya matahari menembu lubang udara, para umat itu, masing-masing khusuk dengan doanya sendiri sambil bibir komat-kamit meluncurkan doa kepada dewa.

Di pintu masuk tempat ia berbelok, kulihat patung dewa kegembiraan. Kesebut kegembiraan karena mulutnya tertawa. Entah, pemberian namaku benar atau tidak.

Patung dewa kegembiraan itu sepertinya terbuat dari besi kuningan. Tapi bisa saja emas. Kudengar, seniman patung kelenteng sangat tinggi cita rasanya. Keahliahnnya mumpuni.

Para penyemah ini sungguh mulia. Mereka sangat menghargai panutan. Penghormatan terhadap dewa sungguh besar. Aku pernah dengar, ada patung dewa terbuat dari emas murni.

Emas murni! Aku jadi ingat tugu Monas. Jangan-jangat itu sebagai bentuk penghormatan juga? Ah, tak tahulah. Yang pasti banyak pelancong domesting naik ke menaranya ketika akhir pekan tiba.

Kursi kosong dari semen sekeliling halaman wihara menunggu diduduki. Aku memilih duduk di salah satu sudut sepi.

Ini wihara atau kelenteng, ya? Meski kusebut wihara, tapi aku terganggu. Jangan-jangan ini kelenteng?. Wihara dan kelenteng pun aku tidak tahu apakah sama atau berbeda. Ah, kuanggap saja sama, karena aku memang tidak tahu apa-apa. Bahkan alat-alat peribadatan agamaku pun aku tidak begitu paham. Aku hanya tahu altar dan meja persembahan.

Bagiku tidak penting mengetahui segalanya. Yang penting aku bisa berhubungan dengan Tuhanku di atas sana. Kalau Dia memang ada.

Sejarah telah mencatat banyak orang pintar meniadakan Tuhan dalam kehidupannya. Tidak mengakui ada Tuhan di atas sana, atau tinggal di hati manusia.

Aku memang tidak se ekstrim mereka yang berani mengatakan Tuhan itu tidak ada. Aku percaya Tuhan ada tapi sedang sakit mata. Kenapa demikian?

Beberapa hari lalu aku jalan kaki dari lapangan Banteng menuju Harmoni. Kuambil jalan melewati depan Katedral. Mataku dituntun melihat bentangan tali di antara pohon pinggir jalan. Pakaian-pakaian kumal bermacam ragam tergantung di sana. Beberapa potong celana kumal, rok, dan celana dalam buluk. Cahaya lampu jalan remang-remang menembus lewat celah dedaunan. Cahaya seremang itu membuat kain-kain digantungan terlihat semakin kumal.

Mungkin Tuhan yang di Katedral sedang sakit mata. Tidak melihat ada gelandangan tidur di bawah pohon sini. Atau Ia terlalu tinggi berdiri di atas menara hingga tidak melihat manusia dibawah, di seberang jalan? Ini kan jaman modern. Setidaknya Dia bisa pakai teropong atau webcam. Penempatannya disebar di beberapa titik, di seputar halaman. Supaya Dia bisa mengamati keamanan sekitar lewat komputer ruang kontrol. Kan, tenaga Tuhan sedikit hemat. Tidak perlu lagi naik turun tangga ke menara. Ia bisa pakai tenaga-Nya untk mengurusi hal lain. Mengadili roh koruptor, misalnya.

“Hi!”
Pikiranku tentang Tuhan sakit mata sekejap bubar tak berbekas. Aku mengangguk diiringi senyum. Tak bisa berkata apa-apa ketika menatap wajah dihiasi bibir tersenyum seindah…

Aduh! Aku bahkan tidak tahu dibandingkan dengan benda seindah apa. Aku tidak tahu membandingkan senyumnya seindah benda apa. Emas dan permata tiba-tiba saja hilang dari kamus di otakku.

Kuterima uluran tangannya dengan dada yang masih berdebar. Otakku masih terus mencari, dimana tersimpan kata-kata untuk mengungkapkan benda yang sepadan dengan kecantikannya. Tapi pencarian di otakku tidak berlangsung lama. Seketika dia memotongnya dengan pertanyaan.

“Kenapa mengikutiku?”
“Aku tidak mengikuti anda.”
“Oh ya? Kalau begitu mengapa tidak berdoa ke dalam?”
“Ah em.. ah.”
“Menunggu saudara?”

Aku tidak mengangguk tapi wajah menunjukkan ekspresi mengatakan ya. Kusadari kebodohanku berbohong. Jelas-jelas aku duduk di sini menunggu dia keluar. Aku tidak bisa berkata lebih lanjut. Malah menghindari jawaban dengan bertanya lagi padanya. Pertanyaanku sebenarnya pengakuan bahwa aku memang mengikutinya.

“Bagaimana bisa tahu kalau saya mengikuti anda?”
“Tiga pedagang bumbu memperingatkan kalau aku diikuti lelaki dengan tatapan mata aneh.”
“Mataku tidak aneh?”

Astaga! Mungkin penjual bumbu itu sedang melihatku menatap pinggulnya yang bergerak-gerak ketika berjalan menuju wihara ini. Aku jadi sedikit malu. Tapi kututupi perasaan itu di dalam hati.

“Maafkan saya.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan.”

Sambil menyampaikan permohonan maaf, aku mencari pertanyaan yang bisa membuat pembicaraan ini berlanjut. Aku ingin lebih lama berhapadan muka dengannya. Aku memang telah disuntik obat bius tingkat sempurna. Aku pingsan total. Aku… ah, akhirnya ketemu.

“Siapa yang kau doakan?”
Dia diam sesaat. Aku pikir dia sedang berpikir mencari jawaban yang tepat untuk memutus percakapan ini. Ooo… jangan sampai terjadi. Aku ingin percakapan ini sampai sore nanti. Sampai malam, barangkali. Jam sembilan masih ada angkutan kota kok. Ayo! Jangan menyerah, perintah otakku. Nah, dia menaikkan wajahnya sedikit.

“Seseorang.”
“Seseorang?”

Jangan-jangan aku yang didoakan agar tidak berbuat jahat kepadanya. “Tidak. Aku tidak mau berbuat jahat kepadamu. Sumpah.” Ups… aku kelewatan. Sumpah itu dilarang. Tapi kata itu penutup kalimat yang kuucapkan. Sudahlah. Semoga tidak perlu bersumpah.

“Bukan kamu. Tapi tindakanmu mengingatkan aku padanya.”

Dia mengamati wajahku, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu ia memandang ke kejauhan, sambil berkata, “Bukankah kamu yang tadi makan di warung kami?”

“Ya.” Kujawab dengan tegas. Dan masih ada harapan untuk ditanya lagi. Ayo tanya lagi, kataku di hati. Percakapan kita belum terlalu lama, kataku lagi di hati.

“Sama betul. Seseorang itu juga selesai makan di warung lalu mengikutiku ke sini.”
“Anda punya pengalaman buruk tentang seseorang itu?”
“Sama sekali tidak. Malah sebaliknya.”

Aneh sekali. Dia menceritakan semua yang telah lalu. Terima kasih Tuhan. Rencanaku dikabulkan. Kini kami berbicara lebih lama. Bahkan lebih dari itu. Aku merasa, ia percaya padaku. Ia kisahkan tentang dirinya padaku.

Kuperhatikan betul-betul bibirnya komat-kamit menceritakan tentang seseorang itu. Aku seperti menunggu sepasang bibir itu jatuh ke tanah lalu memungut untuk memasangkannya kembali di wajahnya. Bibir itu terlau indah untuk bergerak memamerkan kecantikan.

Setelah sekian waktu berlalu, ia lelah berdiri. Dia melangkah makin dekat padaku. Aku pikir akan terjadi sesuatu. Tapi memang terjadi sesuatu. Tapi tidak sesuai dengan sesuatu yang ingin terjadi padaku.

Dia hanya melangkah ke sebelahku. Dia mengambil tempat di sebelahku menghindari matahari sore. Aku tahu. Dia mengambil duduk di situ untuk berteduh di bayangan pohon cery. Tempat dudukku memang di dekat pohon cery.

Cerita terus mengalir dari dalam hatinya tampa kupancing lagi dengn pertanyaan. Semua diceritakan terjun bebas. Persis air terjun Sipulak di Pakkat sana. Meluncur, berdebam, menghantam batu-batu raksasa di kedalaman 75 meter.

Ia berkenalan dengan dengan pemuda. Ia sangat mencintainya. Pertama kali duduk dengan pemuda itu, sama seperti posisiku saat ini. Posisi duduknya pun, sama seperti saat ini. Kenapa semuanya serba sama pikirku? Jangan-jangan dia mengarang cerita?

“Di wihara ini kami berjanji untuk saling mencintai. Kami berikrar untuk membangun keluarga untuk meneruskan keturunan kami. Di sini cinta kami bermula. Dan di sini…”

Dia menghela nafas sejenak. Dia kehabisan nafas? Oh, aku siap memberi nafas buatan. Tapi tawaran itu tidak kuucapkan karena dia meneruskan kisahnya.

“Cinta kami kuharap abadi, tak akan hilang walau wihara ini harus dirubuhkan untuk membangun pusat perbelanjaan. Aku begitu mencintainya. Sudah kuberikan apa yang menjadi haknya di atas pelaminan.”

“Dia meninggalkan anda?”

Bodoh sekali. Pertanyaanku malah menerbitkan air dari kedua mata indahnya. Aku siap menunggu kata-kata terakhirnya bila saja dia harus pergi dengan pertanyaanku yang telah menerbitkan sedihnya. Dugaanku keliru. Dia masih melanjutkan dengan kisah yang mendirikan bulu kudukku.

“Dia meninggal ditempat anda duduk sekarang. Lima perampok terpaksa membunuh untuk mendapatkan uang di sakunya. Di wihara ini cintaku lahir dan mati. Selamat sore!” Dia meninggalkanku. Aku berdiri setelah terlonjak kaget.
“Wihara cinta”, gumanku.

23 Oktober 2004

Ditulis pada CERITA-CERITA PENDEK | 1 Komentar