Aku tertegun. Bau tajam menusuk lewat rongga hidung mencari saraf penciuman. Otak kecilku dipaksa berputar cepat menelisik kenangan-kenangan usang tertinggal. Mungkin karena aku tidak lahir di jaman Pentium hingga sulit mengenali bau yang sekian tahun lalu pernah tersimpan datanya di folder kenangan. File cinta kuberikan namanya, di hardisc Remaja (C:). Sengaja kupartisi hardisc otakku untuk memisahkan kenangan indah dan buruk. Yang indah kubuat foldernya di partisi bagian C, mewakili singkatan kata cinta. Entah logika mana kupakai memberikan nama itu. Biarlah semua yang indah atas nama cinta. Cinta untukku dan cinta orang-orang di sekitarku.
Kelahiranku tidak jauh dari seputaran waktu ditemukannya mikroprosesor. Benda kecil dengan kemampuan besar yang jadi cikal bakal prosesor Pentium jaman ini.
Aku sering menggunakannya sebagai penanda ingatan waktu pada sesuatu yang berhubungan dengan kecepatan otakku. Tapi tidak bijaksana membandingkan otakku dan otak buatan itu. Berbeda samasekali. Mungkin seperti membandingkan seekor semut dengan gajah.
Tapi kalau lobang yang dimasuki lobang semut, kenapa harus memakai gajah? Mungkin bisa. Tapi gajah harus dicacah kecil-kecil seukuran semut lalu ditarik dengan serat pohon pisang yang dalam bahasa batak daerahku disebut riman. Pekerjaan melelahkan bukan?
Hah kenangan itu datang. Ia hadir dalam keterbatasan otakku mengingat sesuatu. Hio? Ya! Hio! Sekejap kenangan tentangmu berputar-putar kembali seperti gasing di atas ubin merah darah tigapuluh kali tigapuluh centimeter. Ngilu di hati ketika ujung gasing bertumpu di cluster memori yang menyimpan duka.
Aku tidak bisa berhenti begitu saja mengenangkannya. Kedalaman cengkraman tangannya tak tergoyahkan hentakan-hentakan kepala. Setengah mati memaksanya keluar dari telinga. Pegangannya sudah berurat berakar. Ia tumbuh dan berkembang biak, membangun koloni kehidupan.
Astaga! Kini ia malah berteriak mengumandangkan namanya. Kenangan itu. Masa yang selalu ingin kulupa permanen dari memori otakku. Ah, andai kutahu dimana tombol delete di anggota tubuhku. Aku akan segera menekannya dengan dendam.
Ia tetap tidak mau berhenti. Perlu kutusuk-tusuk gendang telingaku hingga berlubang-lubang. Kukuh sekali. Suara itu tetap tidak mau berhenti. Dia makin marah dan menggila. Dia berlari kesana-kemari. Tidak peduli lagi kalau tindakannya membuatku tambah sakit.
Kini ia menempel di ujung saraf pendengaran. Aku tidak berani menariknya satu persatu. Takut otakku ikut terseret juga. Ada bagian indah yang tidak ingin kubuang dari sana. Termasuk kamu. Bisa-bisa aku jadi manusia tanpa kenangan. Amnesia.
Tapi aku tidak pernah suka ketika yang muncul hanya deraan kesakitan yang pernah terlintas di perjalanan hidup. Perjalanan cinta yang buruk.
Tidak bisa kuisolasi pedih masa lalu itu. Ia hidup. Virusnya cepat berbiak mengisi segala sudut. Anti virus khusus otak sekarat tidak mampu memperbaiki kerusakan file kenangan yang terjangkiti. Ia lebih cepat uptudate dibanding anti virusku. Padahal baru seminggu lalu ku update. Fasilitas karantina pun tidak sanggup kujalankan.
Anti virus bedebah sialan! Pilihan di-delete lalu hilang permanen? Tidak! Aku tidak mau. Bagaimana pun ada kenangan manis di sana. Meski secuil.
Kutinggalkan amarahku di meja engkoh penjual nasi Hainam campur. Tidak jadi aku pesan kesukaanku. Irisan tipis daging merah yang kuangankan sejak dari rumah, tidak menarik lagi. Aku sudah terlalu muak dengan satu hal yang sangat kubenci ketika hendak makan di warung. Beberapa pengalaman jelekku entah kenapa selalu terjadi di warung engkoh. Entah di kantin kampus juga di daerah Kota.
Lima daftar menu disodorkan tepat di mukaku, disertai suara keras berebutan menarik perhatian. Mereka menawarkan jualan. Seolah aku ucok kecil yang tidak bisa baca dan sedikit tuli. Mungkin aku harus teriak : ” Aku ini sarjana meski IP dua lebih sedikit. Tahu baca dari ini Budi sampai Das Kapital Karl Max. Bahkan pernah baca teori Dekonstruksi Derrida. Telingaku juga beres, kata dokter THT dua minggu lalu”. Dengan begitu, mungkin mereka semua akan menciut seperti keong masuk ke cangkangnya.
Dalam perasaan kesal, aku masih bisa baca kalau dua dari daftar menu menyediakan Hainam campur. Ada pula dikasih nama Hainam Campur Singapore. Apa babinya dari Singapura? Atau penjualnya dari Singapura?
Pertanyaan mana yang mungkin terjadi? Buatku, pertanyaan terakhir lebih masuk akal. Aku punya alasan yang terpikir begitu saja. Untuk apa mengimpor sekedar daging babi dari negeri tetangga? Padahal di Banten sana, beratus babi bule gemuk diternakkan. Mereka berdesakan di kandang-kandang berlantai semen dan beratap seng. Babi bule yang putih semua bulunya. Atau cenderung ke merah jambu seluruhnya.
“Kenapa juga harus disodor-sodorkan hampir kena muka? Berteriak lagi?” tanyaku dalam hati.
“Hainam campur”
“Bakmi…bakmi”
“Hainam campur”
“Boleh… boleh, silahkan”
“Ya, nanti sebentar lagi.”, jawabku
“Kwetiau?”
“Ya, nanti.”, jawabku lagi
“Teh botol, fruit tea, atau apa?”
Aku tidak tahan. Aku menoleh. Ah, Wanita. Akhirnya aku sanggup menahan. Tak sanggup aku marah atau mendongkol padanya. Meski dalam hati sekalipun. Wanita.
“Es teh manis.” Pesanku. Ee… dia balik badan tanpa mengucapkan terima kasih. “Mata duitan”, umpatku. “Dasar kapitalis”, tambahku. Segala cara untuk uang. Produk laku itu lebih penting. Manusia itu cuma aset. “Kapitalis!”, umpatku kembali. Tentunya dalam hati.
Kenangan dulu terbayang lagi. Wujudnya semakin jelas tergambar. Peristiwa dulu seperti terjadi kembali. Aku jadi bisa membandingkan masa lalu dan kini.
Belahan jalan di los penjual ikan segar masih seperti dulu. Becek berat. Nyaris sama seperti dulu. Ember-ember, tumpukan ikan, teriakan-teriakan, dan tawar-menawar. Satu yang membuatnya berbeda. Baunya. Baunya kini semakin menjadi. Lebih bau dari dulu.
Bertumpuk-tumpuk ikan tongkol digelar dekat ikan bawal. Kulihat toko kelontong Sejahtera di sana. Masih seperti dulu, bercat hijau muda di bagian luar. Kini memang lebih kusam. Ia tenda-tenda biru berdebu. Sebagian halaman depan pun tertutup jualan bumbu-bumbu dapur. Bau bumbu campur aduk mengalahkan bumbu bakmi di atas penggorengan.
Aku terbayang kelezatan rasa mi hangat baru diangkat dari penggorengan. Dihidangkan di atas piring ceper. Piring dari bahan yang sama untuk membuat kursi metromini. Pantulan kilau mi akibat minyak berlimpah menerbitkan liur.
Dulu aku begitu tertarik untuk menikmatinya. Harumnya uap dari penggorengan terasa kuat menarik air liurku.
Tidak menunggu lama, pesanan diletakkan di atas meja, ditemani segelas air putih. Sepasang sumpit bambu berbungkus pelastik kuraih dari tempatnya di ujung meja. Cuka makanan, sambal dan saus tomat tak ingin kutambahkan untuk harum mi seenak ini.
Jepitan-jepitan mi menunggu masuk mulut tidak bertahan lama di udara. Hanya sesaat terangkat dari piring, sehitungan beberapa detik melucur ke mulut. Ujungnya kusedot dengan tarikan napas sambil memoyangkan bibir. Ujung lainnya yang masih tertinggal di piring kudorong pelan-pelan dengan sumpit.
Bibir berminyak-minyak menambah lancar barisan mi itu meluncur ke rongga mulut. Lalu kukunyah lembut untuk menikmati lama-lama racikan bumbu yang luar biasa.
Ingin aku punya istri pintar memasak mi seperti ini. Kalau kutemukan, mungkin aku tidak perlu lagi makan nasi. Tiga kali sehari hanya makan mi berminyak. Lupakan kolesterol yang makin naik dan darah yang makin tinggi sampai ke langit. Jantung juga biar kelelahan memompa darah ke seluruh tubuh. Kenikmatan di atas segalanya.
Di ujung jepitan sumpit terakhir tanganku berhenti. Gadis itu membuatku mematung. Rambutnya hitam legam jatuh lurus di bahu. Kulit putih wajahnya bercahaya seperti matahari. Aku seperti klorofil daun mengharapkan sinar dari wajahnya tadi. Kemana pun dia bergerak aku mengikut terus. Akibatnya tangkai daunku harus berkelok-kelok mengikut gerak sinar matahari dari wajahnya.
Mata sipit seperti mengintip saja melihat segala sesuatu. Astaga! Aku cukup lama terpaku melihat gerak bibirnya naik turun ketika berbicara pada ayahnya yang sedang menghitung uang di kasir. Tebakanku asal saja karena kulihat mereka mirip. Sama sipit dan kulitnya hampir serupa putihnya. Rambut pun sama hitamnya. Tapi kalau dibandingkan dengan lelaki sipit yang baru saja meninggalkan kasir sambil membawa bungkusan, juga mirip.
Aku sulit membedakan mereka. Bagiku semuanya sama saja. Seperti melihat orang Amerika. Mirip. Seolah mereka semua sama. Berambut pirang dan bertubuh jangkung. Ternyata bukan hanya aku saja yang berpendapat begitu. Teman-temanku pun sama. Bahkan aku pernah bertemu orang Jepang dari rombongan kesenian, bertanya kemana saudara perempuanku. Aku bingung. Saudara perempuanku ada di Sumatera, tidak pernah kubawa bertemu dia. Setelah dia menerangkan ternyata maksudnya adalah teman perempuan yang beberapa kali kubawa bertemu dengannya. Dia melihat kita orang Indonesia serupa semua. Dianggapnya bersaudara. Dia tidak tahu kalau di Ambon pernah perang saudara.
Kuambil selember tisu dari wadah di atas meja. Cepat-cepat kulap mulut. Sekelebat menuju kasir setelah meminum seperempat gelas air putih.
Rupanya dia pamit ke ayahnya entah hendak kemana. Aku ikuti saja. Aku seperti kutub utara magnet mengikuti dia si kutub selatan. Tarikannya begitu kuat seperti disedot pusaran tornado. Aku ditarik ke tengah pusaran. Aku pusing.
Aku tidak bisa melepaskan kesempatan ini begitu saja. Aku ingin kenalan. Tidak harus berharap menjadi pacarnya. Menjadi teman pun tak apa. Siapa tahu istriku kelak bisa belajar membuat mi enak darinya. Itu saja.
Gelap semua. Wajah-wajah yang kutemui saat berpapasan tampak gelap semua. Mata mereka memandang hanya lurus ke depan. Barang sedikin pun tidak peduli dengan aku yang menabrak alur arah mereka yang berjalan cepat di tengah para pembeli.
Hanya wajahnya bercahaya di siang ini. Dengan mudah kuikuti pergerakan cahaya yang keluar dari wajahnya. Ternyata bukan cahaya dari wajahnya saja. Seluruh tubuhnya bercahaya di tengah orang banyak. Seolah satu-satunya sumber cahaya di tengah jagad raya maha luas.
Mataku tertumbuk pada pinggulnya yang bergerak ke kiri kekanan mengikuti langkahnya. Bahkan bagian itu sungguh sempurna. Pinggul besar di bawah pinggang ramping konon bagus untuk melahirkan anak. Tapi aku tidak ingin melahirkan anakku dari rahimnya. Suatu hal yang mustahil kalau pun aku menginginkan. Banyak sekali hambatan yang harus kulalui bila berani membayangkan ia menjadi istri. Bukan hanya aku yang akan kesulitan. Dia dan anak-anak kami terutama, akan sulit memperoleh sepucuk surat pengakuan sebagai tanda memiliki sesuatu dari RT.
Di tempatku berdiri sekarang ini dia dulu berhenti. Di tengah angin dengan bau hio yang tajam dia berdiri. Menolehkan wajahnya ke belakang. Sontak aku menghentikan langkah dan menahan napas melihat senyum di bibirnya. Ia mengganggukkan kepala sambil tersenyum. Aku jadi memperhatikan leher putihnya. Kutahan mataku untuk tidak berfokus ke bawah lehernya karena takut dia menganggap aku laki-laki yang bukan-bukan.
Kuikuti ia masuk gerbang kelenteng Darma Bakti. Sepanjang jalan masuk berbaris pengemis. Kuperhatikan kulit mereka. Sama denganku. Dan mata? Pun sama seperti mataku. Aku menunduk malu sejenak lalu hanya menatap lurus ke depan, mengikuti kemana ia mengarah.
Aku berhadapan dengan barisan hio ditancap di atas pedupaan. Merah hio kontras dengan warna abu yang abu-abu. Hi berwarna merah menjadi abu-abu setelah terbakar habis sedikit demi sedikit, lalu jatuh menjadi gundukan abu. Sudah pasti bau tajam pun menusuk hidung, lebih tajam, sebab hio terbakar hanya beberapa meter di depanku.
Kulihat ia membelok, masuk ke ruangan yang penuh dengan asap dan barisan orang menyembah naik turun tidak serempak.
Aku masih sempat berdiri sejenak melihat kesibukan di dalam sana. Dalam terang cahaya lilin dan sedikit cahaya matahari menembu lubang udara, para umat itu, masing-masing khusuk dengan doanya sendiri sambil bibir komat-kamit meluncurkan doa kepada dewa.
Di pintu masuk tempat ia berbelok, kulihat patung dewa kegembiraan. Kesebut kegembiraan karena mulutnya tertawa. Entah, pemberian namaku benar atau tidak.
Patung dewa kegembiraan itu sepertinya terbuat dari besi kuningan. Tapi bisa saja emas. Kudengar, seniman patung kelenteng sangat tinggi cita rasanya. Keahliahnnya mumpuni.
Para penyemah ini sungguh mulia. Mereka sangat menghargai panutan. Penghormatan terhadap dewa sungguh besar. Aku pernah dengar, ada patung dewa terbuat dari emas murni.
Emas murni! Aku jadi ingat tugu Monas. Jangan-jangat itu sebagai bentuk penghormatan juga? Ah, tak tahulah. Yang pasti banyak pelancong domesting naik ke menaranya ketika akhir pekan tiba.
Kursi kosong dari semen sekeliling halaman wihara menunggu diduduki. Aku memilih duduk di salah satu sudut sepi.
Ini wihara atau kelenteng, ya? Meski kusebut wihara, tapi aku terganggu. Jangan-jangan ini kelenteng?. Wihara dan kelenteng pun aku tidak tahu apakah sama atau berbeda. Ah, kuanggap saja sama, karena aku memang tidak tahu apa-apa. Bahkan alat-alat peribadatan agamaku pun aku tidak begitu paham. Aku hanya tahu altar dan meja persembahan.
Bagiku tidak penting mengetahui segalanya. Yang penting aku bisa berhubungan dengan Tuhanku di atas sana. Kalau Dia memang ada.
Sejarah telah mencatat banyak orang pintar meniadakan Tuhan dalam kehidupannya. Tidak mengakui ada Tuhan di atas sana, atau tinggal di hati manusia.
Aku memang tidak se ekstrim mereka yang berani mengatakan Tuhan itu tidak ada. Aku percaya Tuhan ada tapi sedang sakit mata. Kenapa demikian?
Beberapa hari lalu aku jalan kaki dari lapangan Banteng menuju Harmoni. Kuambil jalan melewati depan Katedral. Mataku dituntun melihat bentangan tali di antara pohon pinggir jalan. Pakaian-pakaian kumal bermacam ragam tergantung di sana. Beberapa potong celana kumal, rok, dan celana dalam buluk. Cahaya lampu jalan remang-remang menembus lewat celah dedaunan. Cahaya seremang itu membuat kain-kain digantungan terlihat semakin kumal.
Mungkin Tuhan yang di Katedral sedang sakit mata. Tidak melihat ada gelandangan tidur di bawah pohon sini. Atau Ia terlalu tinggi berdiri di atas menara hingga tidak melihat manusia dibawah, di seberang jalan? Ini kan jaman modern. Setidaknya Dia bisa pakai teropong atau webcam. Penempatannya disebar di beberapa titik, di seputar halaman. Supaya Dia bisa mengamati keamanan sekitar lewat komputer ruang kontrol. Kan, tenaga Tuhan sedikit hemat. Tidak perlu lagi naik turun tangga ke menara. Ia bisa pakai tenaga-Nya untk mengurusi hal lain. Mengadili roh koruptor, misalnya.
“Hi!”
Pikiranku tentang Tuhan sakit mata sekejap bubar tak berbekas. Aku mengangguk diiringi senyum. Tak bisa berkata apa-apa ketika menatap wajah dihiasi bibir tersenyum seindah…
Aduh! Aku bahkan tidak tahu dibandingkan dengan benda seindah apa. Aku tidak tahu membandingkan senyumnya seindah benda apa. Emas dan permata tiba-tiba saja hilang dari kamus di otakku.
Kuterima uluran tangannya dengan dada yang masih berdebar. Otakku masih terus mencari, dimana tersimpan kata-kata untuk mengungkapkan benda yang sepadan dengan kecantikannya. Tapi pencarian di otakku tidak berlangsung lama. Seketika dia memotongnya dengan pertanyaan.
“Kenapa mengikutiku?”
“Aku tidak mengikuti anda.”
“Oh ya? Kalau begitu mengapa tidak berdoa ke dalam?”
“Ah em.. ah.”
“Menunggu saudara?”
Aku tidak mengangguk tapi wajah menunjukkan ekspresi mengatakan ya. Kusadari kebodohanku berbohong. Jelas-jelas aku duduk di sini menunggu dia keluar. Aku tidak bisa berkata lebih lanjut. Malah menghindari jawaban dengan bertanya lagi padanya. Pertanyaanku sebenarnya pengakuan bahwa aku memang mengikutinya.
“Bagaimana bisa tahu kalau saya mengikuti anda?”
“Tiga pedagang bumbu memperingatkan kalau aku diikuti lelaki dengan tatapan mata aneh.”
“Mataku tidak aneh?”
Astaga! Mungkin penjual bumbu itu sedang melihatku menatap pinggulnya yang bergerak-gerak ketika berjalan menuju wihara ini. Aku jadi sedikit malu. Tapi kututupi perasaan itu di dalam hati.
“Maafkan saya.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan.”
Sambil menyampaikan permohonan maaf, aku mencari pertanyaan yang bisa membuat pembicaraan ini berlanjut. Aku ingin lebih lama berhapadan muka dengannya. Aku memang telah disuntik obat bius tingkat sempurna. Aku pingsan total. Aku… ah, akhirnya ketemu.
“Siapa yang kau doakan?”
Dia diam sesaat. Aku pikir dia sedang berpikir mencari jawaban yang tepat untuk memutus percakapan ini. Ooo… jangan sampai terjadi. Aku ingin percakapan ini sampai sore nanti. Sampai malam, barangkali. Jam sembilan masih ada angkutan kota kok. Ayo! Jangan menyerah, perintah otakku. Nah, dia menaikkan wajahnya sedikit.
“Seseorang.”
“Seseorang?”
Jangan-jangan aku yang didoakan agar tidak berbuat jahat kepadanya. “Tidak. Aku tidak mau berbuat jahat kepadamu. Sumpah.” Ups… aku kelewatan. Sumpah itu dilarang. Tapi kata itu penutup kalimat yang kuucapkan. Sudahlah. Semoga tidak perlu bersumpah.
“Bukan kamu. Tapi tindakanmu mengingatkan aku padanya.”
Dia mengamati wajahku, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu ia memandang ke kejauhan, sambil berkata, “Bukankah kamu yang tadi makan di warung kami?”
“Ya.” Kujawab dengan tegas. Dan masih ada harapan untuk ditanya lagi. Ayo tanya lagi, kataku di hati. Percakapan kita belum terlalu lama, kataku lagi di hati.
“Sama betul. Seseorang itu juga selesai makan di warung lalu mengikutiku ke sini.”
“Anda punya pengalaman buruk tentang seseorang itu?”
“Sama sekali tidak. Malah sebaliknya.”
Aneh sekali. Dia menceritakan semua yang telah lalu. Terima kasih Tuhan. Rencanaku dikabulkan. Kini kami berbicara lebih lama. Bahkan lebih dari itu. Aku merasa, ia percaya padaku. Ia kisahkan tentang dirinya padaku.
Kuperhatikan betul-betul bibirnya komat-kamit menceritakan tentang seseorang itu. Aku seperti menunggu sepasang bibir itu jatuh ke tanah lalu memungut untuk memasangkannya kembali di wajahnya. Bibir itu terlau indah untuk bergerak memamerkan kecantikan.
Setelah sekian waktu berlalu, ia lelah berdiri. Dia melangkah makin dekat padaku. Aku pikir akan terjadi sesuatu. Tapi memang terjadi sesuatu. Tapi tidak sesuai dengan sesuatu yang ingin terjadi padaku.
Dia hanya melangkah ke sebelahku. Dia mengambil tempat di sebelahku menghindari matahari sore. Aku tahu. Dia mengambil duduk di situ untuk berteduh di bayangan pohon cery. Tempat dudukku memang di dekat pohon cery.
Cerita terus mengalir dari dalam hatinya tampa kupancing lagi dengn pertanyaan. Semua diceritakan terjun bebas. Persis air terjun Sipulak di Pakkat sana. Meluncur, berdebam, menghantam batu-batu raksasa di kedalaman 75 meter.
Ia berkenalan dengan dengan pemuda. Ia sangat mencintainya. Pertama kali duduk dengan pemuda itu, sama seperti posisiku saat ini. Posisi duduknya pun, sama seperti saat ini. Kenapa semuanya serba sama pikirku? Jangan-jangan dia mengarang cerita?
“Di wihara ini kami berjanji untuk saling mencintai. Kami berikrar untuk membangun keluarga untuk meneruskan keturunan kami. Di sini cinta kami bermula. Dan di sini…”
Dia menghela nafas sejenak. Dia kehabisan nafas? Oh, aku siap memberi nafas buatan. Tapi tawaran itu tidak kuucapkan karena dia meneruskan kisahnya.
“Cinta kami kuharap abadi, tak akan hilang walau wihara ini harus dirubuhkan untuk membangun pusat perbelanjaan. Aku begitu mencintainya. Sudah kuberikan apa yang menjadi haknya di atas pelaminan.”
“Dia meninggalkan anda?”
Bodoh sekali. Pertanyaanku malah menerbitkan air dari kedua mata indahnya. Aku siap menunggu kata-kata terakhirnya bila saja dia harus pergi dengan pertanyaanku yang telah menerbitkan sedihnya. Dugaanku keliru. Dia masih melanjutkan dengan kisah yang mendirikan bulu kudukku.
“Dia meninggal ditempat anda duduk sekarang. Lima perampok terpaksa membunuh untuk mendapatkan uang di sakunya. Di wihara ini cintaku lahir dan mati. Selamat sore!” Dia meninggalkanku. Aku berdiri setelah terlonjak kaget.
“Wihara cinta”, gumanku.
23 Oktober 2004